Selasa, 14 Juli 2009

Metafora dalam Puisi

Kajian-kajian terhadap metafora sebagai gaya bahasa, sebagaimana disampaikan Saeed (2005:346), pada umumnya menggunakan pendekatan yang didasarkan pada dua pandangan yang berbeda. Pendekatan pertama didasarkan pada pandangan klasik (Classical View) terhadap metafora. Pandangan klasik ini muncul sejak beredarnya tulisan Aristoteles (384-322 SM) tentang metafora. Aristoteles memandang metafora sebagai satu jenis hiasan tambahan pada penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Metafora dianggap sebagai alat retorik yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu untuk mencapai efek tertentu pula. Wujudnya menyimpang dari bahasa yang dianggap masyarakat sebagai bahasa yang normal. Oleh karena itu, setiap pendengar menangkap ujaran metafora, ia akan menangkapnya sebagai bentuk ujaran yang aneh (anomalous) sehingga ia harus berusaha sedemikian rupa untuk dapat merekonstruksi makna apa sebenarnya yang terkandung dalam ujaran aneh itu.
Pendekatan kedua didasarkan pada pandangan romantik (Romantic View). Kemunculannya terjadi sekitar abad 18-19 Masehi. Aliran ini memandang metafora sangat berbeda dengan pandangan sebelumnya. Dalam pandangan romantik, metafora merupakan wujud integral dari bahasa dan pikiran sebagai sebuah cara pencarian pengalaman. Sebuah bentuk metafora dipandang tidak hanya sebagai refleksi dari bagaimana penuturnya menggunakan bahasa, tetapi juga sebagai refleksi dari bagaimana pikiran-pikiran penuturnya.
Lebih dari itu, sebagaimana yang disampaikan Freeborn (1996:63) bahwa George Lokaff dan Mark Johnson, sebagai penganut pandangan romantik, mengakui metafora bukanlah sekedar alat imajinasi puitik dan hiasan retorik semata, tetapi meresap dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar ada dalam bahasa, namun menyatu dalam pikiran dan tindakan. Melalui metafora yang digunakan, seseorang dapat diketahui pikiran dan perbuatannya. Metafora mencerminkan siapa dan bagaimana pemakainya.

Pengertian Metafora
Hendy (1991:69) mengemukakan bahwa metafora berasal dari kata meta dan phoreo yang berarti bertukar nama atau perumpamaan. Metafora adalah majas perbandingan langsung, yaitu membandingkan sesuatu secara langsung terhadap penggantinya. Untuk memperjelas pengertian yang diajukannya, Hendy memberikan contoh sebagai berikut.

(1) Sang ratu malam telah muncul di ufuk timur.
(2) Jantung hatinya hilang tanpa berita.

Ungkapan ratu malam pada kalimat pertama berarti bulan sedangkan ungkapan jantung hati pada kalimat kedua berarti kekasih. Jadi, bulan secara langsung dibandingkan dengan ratu malam atau ratu pada malam hari, sedangkan kekasih secara langsung dibandingkan dengan jantung dan hati.
Apa yang dimaksud dengan perbandingan langsung pada pengertian yang diajukan Hendy di atas, dapat dipahami dengan jelas melalui pengertian metafora yang diajukan Waluyo. Waluyo (1987:84), dalam bukunya yang berjudul Teori dan Apresiasi Puisi, menyatakan bahwa metafora adalah kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan itu tidak disebutkan. Metafora itu langsung berupa kiasan. Sebagai contoh klasik, yaitu litah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya. Contoh-contoh yang dipaparkan ini dikatakannya sebagai metafora konvensional, yaitu metafora yang sudah lazim.
Dalam puisi-puisi modern, banyak dijumpai metafora yang tidak konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair. Jenis metafora ini bersifat original. Ia hanya dimiliki oleh penyairnya. Sebagai contoh, Waluyo menyajikan petikan puisi karya Rendra yang berjudul Surat Cinta sebagai berikut.

Engkaulah Putri Duyung
Tawananku
Putri Duyung dengan suara merdu
Lembut bagai angin laut
Mendesahlah bagiku

Dalam penggalan puisi ini, Rendra mengiaskan kekasihnya sebagai putri duyung. Putri duyung merupakan metafora yang tidak lazim dikenal masyarakat sehingga disebut sebagai metafora yang tidak konvensional. Metafora ini hasil proses kreatif Rendra dalam menciptakan puisi. Putri duyung sebagai metafora hanya ada dalam puisi Rendra. Sebagai penyair yang kreatif, Rendra enggan menggunakan ungkapan seperti bunga desa, belahan jiwa, jantung hati, ataupun ungkapan-ungkapan lain yang sudah ada sebelumnya.
Selanjutnya, Aminudin (1987:143) juga mengajukan pengertian metafora yang menekankan pada kandungan makna kiasnya. Aminudin mengemukakan bahwa metafora merupakan bentuk pengungkapan yang di dalamnya terdapat hubungan makna secara tersirat, mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya. Suatu kata atau frasa tidak lagi mewakili acuan maknanya sendiri, tetapi mewakili acuan makna yang dimiliki kata atau frasa lainnya yang dianggap sepadan. Misalnya, ”Cemara pun gugur daun” mengungkapkan makna ”ketidakabadian kehidupan”.
Ahli lain, yakni Saeed (2005:345-346), juga membenarkan adanya pemindahan makna (concept transference) dalam metafora. Saeed menyatakan bahwa pada umumnya, metafora disamakan halnya dengan simile bahwa pada keduanya terdapat identifikasi kemiripan hal-hal yang dianalogikan. Padahal, metafora sebenarnya lebih dari itu karena dalam metafora terdapat pemindahan konsep dari komponen yang satu pada komponen yang lainnya. Komponen-komponen pembangun metafora itu berupa domain target (target domain) dan domain sumber (source domain). Domain target, dalam termenologi I.A. Richard, disebut sebagai tenor sedangkan domain sumber disebut sebagai vehicle.
Batasan yang diajukan para ahli di atas pada dasarnya memiliki kesamaan, yaitu munculnya makna kias sebagai akibat dari perbandingan antara dua objek secara langsung (direct analogy). Kedua objek yang dibandingkan tersebut sebenarnya merupakan objek-objek yang berbeda. Namun, salah satu objek memiliki kondisi-kondisi yang mirip atau bahkan mungkin sama dengan kondisi-kondisi yang dimiliki oleh objek yang lain. Artinya, kondisi suatu objek dapat menggambarkan kondisi objek lainnya. Objek-objek seperti inilah oleh penyair yang kreatif sering digunakan secara distributif sehingga lahir apa yang disebut dengan kiasan langsung dalam metafora.
Pengertian-pengertian di atas, bila dicermati tampaknya dirumuskan oleh para ahli berdasarkan tinjauan secara semantis. Sebuah kata - dapat pula berupa kelompok kata, nama, maupun istilah - dapat dipakai sebagai perbandingan atau kiasan kata lain apabila keduanya memiliki kandungan semantis yang mirip atau mungkin sama. Kata-kata itu dianggap memiliki kandungan konsep yang sepadan sehingga konsep kata yang satu dipakai untuk menggambarkan konsep kata yang lainnya. Objek yang satu digunakan untuk menggambarkan kondisi objek yang lainnya.
Di samping rumusan pengertian metafora yang didasarkan pada tinjauan aspek semantis sebagaimana dipaparkan sebelumnya, ada pula rumusan-rumusan pengertian metafora yang didasarkan pada tinjauan aspek sintaksis. Pada rumusan ini, sudut pandang para ahli dipusatkan pada bagaimana hubungan dua hal yang dibandingkan itu dalam sebuah konstruksi sintaksis. Mengingat kedua hal tersebut merupakan komponen-komponen pembangun konstruksi kalimat metaforis. Sebagai kompenen-komponen yang dibandingkan, keduanya pasti bersifat sepadan dan secara sintaksis hubungannya bersifat koordinatif. Namun demikian, dalam sebuah konstruksi kalimat metaforis, justru tidak diperlukan piranti formal lingustik yang berupa konjungsi komparatif untuk menjalin hubungan di antara keduanya.
Rumusan pengertian metafora yang menggunakan sudut pandang itu diajukan Siswantoro. Siswantoro (2005:27-28) menyampaikan bahwa metafora sama halnya seperti simile, motafora juga membandingkan antara objek yang memiliki titik-titik kesamaan, tetapi tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti, sebagai, bagai, dan lain-lain. Untuk memperjelas batasan yang diajukannya, Siswantoro memaparkan kembali pendapat Wren dan Martin bahwa a metaphor is an implied simile. It does not like the simile, state one thing is like another or acts as another, but takes that for granted and proceeds as if the two things were one. Atas dasar pengertian seperti itu, kalimat He fought like a lion, merupakan contoh bentuk simile, tetapi kalimat He was a lion in the fight, meru-pakan contoh bentuk metafora.
Dalam penjelasan di atas, Siswantoro secara tegas mengatakan bahwa ketiadaan konjungsi komparatif sebagai piranti formal linguistik secara sintakitis merupakan keharusan dalam sebuah metafora. Hal serupa juga disampaikan Pradopo dan Djajasudarma. Pradopo (2005:66) dan Djajasudarma (1999:21) menjelaskan bahwa metafora adalah bahasa kiasan seperti perbandingan, hanya tidak menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagai, laksana, dan sebagainya. Metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain. Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain, yang sesungguhnya tidak sama. Sebagai contoh, Pradopo memaparkan larik-larik puisi Subagio yang berjudul Dewa Telah Mati, sebabai berikut.

Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
Ke rawa-rawa mesum ini
Dalam penggalan puisi di atas, hubungan bumi ini dengan perempuan jalang bersifat sepadan atau koodinatif. Bumi disamakan (dibandingkan) dengan perempuan jalang, namun, hubungan keduanya secara sintaksis tanpa kehadiran konjungsi komparatif seperti, bagai, laksana, atau yang lainnya. Bumi yang dimaksudkan penyair adalah bumi yang memiliki sifat-sifat seperti perempuan yang jalang, yakni perempuan yang suka menarik laki-laki dan orang baik-baik ke tempat-tempat atau kehidupan mesum yang kotor.
Selain itu, Pradopo juga menjelaskan bahwa ada metafora yang disebut dengan metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise. Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini sudah biasa dipakai dalam komunikasi sehari-hari. Penyair yang kreatif menghindari pemakaian metafora seperti ini. Ia akan mencari bentuk-bentuk ungkapan atau metafora yang baru, yang original.
Para ahli di atas, membicarakan metafora dari dua sudut pandang yang terpisah dan berbeda, yaitu dari aspek semantis dan aspek sintaksis. Namun, ada juga ahli lain yang memandang bahwa kedua sudut pandang itu merupakan satu-kesatuan integral yang harus dibicarakan dalam pembahasan tentang metafora. Artinya, untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap dan memuaskan, kedua hal tersebut harus dibahas secara serempak, sebagaimana yang diajukan Griffith, Freeborn, dan Keraf berikut.
Griffith (1982:59-60) menyampaikan bahwa metafora memiliki dua pengertian, yakni pengertian secara umum (general meaning) dan pengertian secara khusus (specific meaning). Secara umum, metafora merupakan bentuk analogi, yakni perbandingan untuk mencari persamaan-persamaan antara dua hal yang dibandingkan. Sementara secara khusus, metafora merupakan jenis bentuk perbandingan tersendiri yang khas, yang berbeda dengan simile. Jika simile membandingkan dua hal yang berbeda ditandai dengan penggunaan kata like ‘seperti’ atau as ‘bagai atau bagaikan’, maka metafora justru menghilangkan penggunaan kata-kata pembanding seperti itu.
Dijelaskan bahwa analogi dalam metafora terjadi secara langsung atau bersifat implisit. Artinya, suatu hal dibandingkan secara langsung dengan hal lain sehingga makna yang dikehendaki muncul secara tersirat dibalik perbandingan itu. Untuk memperjelas batasan yang diajukan, Griffith memaparkan contoh larik-larik puisi Shakespare yang berjudul Fair Is My Love sebagai berikut.

Fair is my love, but not so fair as fickle
Mild as a dove
, but neither true trusty
Brighter than glass, and yet, as glass is, brittle
Softer than wax, and yet, as iron, rusty

Pada keempat larik penggalan puisi di atas, kata-kata yang bercetak tebal merupakan bentuk simile. Perbandingan-perbandingan tak langsung dalam larik-larik itu dijalin oleh Shakespare dengan menggunakan kata as sebagai konjungsi komparatif. Secara sintaksis, perbandingan-perbandingan seperti itu bersifat eksplisit, bukan implisit sebagaimana perbandingan dalam metafora.
Selanjutnya, dalam puisi Samuel Daniel yang berjudul Love Is a Sickness, Griffith menemukan larik-larik sebagai berikut.

Love is a sickness full of woes
All remedies refusing
A plant that with most cutting grows
Most barren with best using.
Why so?

Larik pertama dan ketiga pada bait puisi di atas merupakan bentuk metafora. Perbandingan-perbandingan disusun tanpa menghadirkan kata pembanding sehingga analogi yang terjadi bersifat langsung dan makna kiasannya tersirat didalamnya.
Freeborn (1996:63) menyatakan bahwa dalam metafora sebutan atau keterangan atas suatu objek dipindahkan pada objek lain yang berbeda tapi analog, sehingga sebutan atau keterangan-ketarangan itu dapat berlaku dengan baik atas keduanya. Perbandingan yang terjadi dalam metafora bersifat implisit karena hubungan kedua objek tanpa disetai kehadiran konjungsi komparatif. Sementara, perbandingan yang terjadi dalam simile bersifat eksplisit karena menggunakan konjungsi komparatif like ‘seperti’ atau as ‘bagai/bagaikan’. Sebuah simile bila konstruksinya dimampatkan (to be compressed) akan dapat menjadi metafora. Selanjutnya, freeborn menyajikan contoh sebagai berikut.

Love is another Archilles, another Hercules
but much more strong than either
Freeborn mengakui apa yang dikatakan George Lokaff dan Mark Johnson bahwa metafora bukanlah sekedar alat imajinasi puisi dan hiasan retorik semata tetapi meresap dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar ada dalam bahasa, namun menyatu dalam pikiran dan tindakan. Dengan kata lain, tidak benar bila metafora hanya dianggap sebagai sarana penyair membangun keindahan bertutur dalam puisinya. Metafora, secara kreatif diciptakan dan dipakai penyair didasarkan pada pengendapan pemahaman dan penghayatan atas kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkaitan dengan segala sesuatu yang ada di dalam dirinya maupun di luar dirinya.
Penegasan yang sama juga disampaikan Keraf (2006:139-140) bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, seperti bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Metafora sebagai perbandingan langsung, tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, bagaikan dan lain-lain. Dalam metafora, pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya, sebenarnya sama dengan simile, tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan dan pokok pertama dihilangkan, misalnya sebagai berikut.

(1) Pemuda adalah seperti bunga bangsa. (menjadi) Pemuda adalah bunga bangsa (menjadi)
Pemuda bunga bangsa. (menjadi)
bunga bangsa

(2) Orang itu adalah seperti buaya darat. (menjadi)
Orang itu adalah buaya darat (menjadi)
Orang itu buaya darat. (menjadi)
buaya darat


Selanjutnya, dijelaskan pula bahwa metafora tidak selalu menduduki fungsi predikat, tetapi dapat juga menduduki fungsi lain, seperti subjek, objek, dan sebagainya. Metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata. Di sinilah letak perbedaan metafora dengan simile. Simile tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata karena keberadaan konteks sangat diperlukan untuk membantu menentukan persamaan makna.
Rumusan yang agak berbeda dan menarik untuk dikaji adalah rumusan definisi yang diajukan Wahab. Sebelum mengajukan pendapatnya tentang metafora, Wahab (2006:65-67) mengemukakan bahwa pembicaraan tentang metafora ada sejak jaman kuno, yakni sejak jaman Aristoteles dan Quintilian. Menurut Aristoteles (384-322 SM), metafora merupakan ungkapan kebahasan untuk menyatakan hal yang umum bagh hal yang khusus, hal yang khusus bagi yang khusus, yang khusus bagi yang umum, atau dengan analogi. Sementara bagi Quintilian (35-95 M), metafora dipandang sebagai ungkapan kebahasaan untuk menyetakan sesuatu yang hidup bagi sesuatu yang hidup lainnya, sesuatu yang hidup untuk sesuatu yang mati, sesuatu yang mati untuk sesuatu yang hidup, dan sesuatu yang mati untuk sesuatu yang mati lainnya.
Menurut Wahab, kedua tokoh itu terjebak oleh cara-cara berpikir simplistis dan dikotomis. Aristoteles dianggapnya terjebak pada pola berpikir umum-khusus atau khusus-umum. Pendapat Quintilian dibatasi oleh kerangka berpikir hidup-mati atau mati-hidup. Untuk itulah, Wahab mengajukan pengertian metafora yang lebih fleksibel. Ia mengartikan metafora sebagai ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung, melainkan dari predikasi-predikasi yang dapat dipakai baik oleh lambang maupun makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasan itu. Dengan kata lain, metafora itu adalah pemahaman dan pengalaman terhadap suatu hal yang dimaksudkan untuk hal lain oleh penulis atau penyairnya.
Dalam bukunya yang lain, Wahab (2005:72) menjelaskan bahwa predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama antara lambang (signifier) dengan yang dilambangkan (signified) akan membantu memudahkan pemahaman terhadap ungkapan metafora. Hal ini karena makna yang dimaksudkan pada yang dilambangkan, dapat diungkap melalui predikasi-predikasi yang berlaku pada lambang. Oleh sebab itu, semakin banyak predikasi yang mungkin dapat dimunculkan dan dapat dipakai, akan semakin baik dan jelas makna ungkapan metafora itu. Sebagai contoh, ungkapan metafora Waktu adalah uang. Pada ungkapan ini, waktu sebagai signified, uang sebagai signifier. Predikasi-predikasi yang dapat dipakai bersama adalah berguna, berharga, sangat dibutuhkan, dipakai secara teratur. Bila dipakai dalam kalimat, sebagai berikut.
(1) Uang itu berguna bagi setiap orang.
(2) Dalam kehidupan sehari-hari, uang sangat berharga.
(3) Uang sangat dibutuhkan siapa saja.
(4) Uang harus dipakai secara teratur.

Setiap kata uang pada kalimat-kalimat di atas, dapat didistribusi dengan kata waktu. Ini membuktikan predikasi-predikasi itu dapat dipakai bersama antara signifier uang dengan signified waktu. Dengan demikian, makna yang dimaksud ungkapan metaforis tersebut adalah waktu itu berharga nilainya, sangat berguna bagi siapa saja, sangat dibutuhkan siapa saja, dan harus dipakai secara teratur sebagaimana uang.
Lebih lanjut, ditegaskan pula bahwa dalam menciptakan ungkapan-ungkapan metaforis, penyair tidak dapat dilepaskan begitu saja dari intensitas penghayatan penyair terhadap segala sesuatu yang ada di luar dirinya. Artinya, keseimbangan interaksi itu menggambarkan kesimbangan persepsi penyair yang dapat ditelusuri melalui penggunaan lambang dalam ungkapan metaforanya. Lambang-lambang yang dipakai dapat dikategorisasi menurut ruang persepsi manusia. Taksonomi ruang persepsi manusia yang dipakai Wahab (2006:71) dipinjam dari Haley, secara berurutan terdiri atas sembilan ruang persepsi, yaitu Human, Animate, Living, Objective, Terrestrial, Substantial, Energetic, Cosmos, dan Being.

Komponen-komponen Metafora
Sebagai sebuah bentuk ungkapan, metafora memiliki bagian-bagian sebagai unsur atau komponen pembangunnya. Sehubungan dengan itu, Pradopo (2005:66-67) menyebutkan bahwa metafora terdiri dari dua bagian (term), yaitu term pokok (principal term) dan term kedua (secondary term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok (tenor) menyebutkan hal yang dibandingkan, sedang term kedua (vehicle) adalah hal yang dipakai untuk membandingkan. Untuk memperjelas keterangannya tentang kedua kedua jenis term tersebut, Pradopo menyajikan contoh berupa larik-larik puisi yang ditemukan dalam puisi Dewa Telah Mati karya Subagio Sastrowardojo berikut.

Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan pertapa
Ke rawa-rawa mesum ini

Kata bumi pada puisi tersebut sebagai term pokok atau tenor, sementara kelompok kata perempuan jalang sebagai term kedua atau vehicle.
Disampaikan pula, penyair sering secara langsung menyebutkan sifat-sifat term kedua atau vehicle tanpa menghadirkan term itu. Metafora semacam ini disebut metafora implisit (implied metaphor). Dalam puisi lain yang berjudul Sajak karya Subagio Sastrowardojo, ditemukan larik seperti di bawah ini.

Hidup ini mengikat dan mengurung.
Pada larik ini, hidup sebagai term pokok diumpamakan sebagai (tali) yang mengikat dan sebagai (kurungan) yang mengurung. Hal yang disebutkan bukan pembandingnya, yaitu tali dan kurungan sebagai term kedua atau vehicle, melainkan sifatnya, yaitu mengikat dan mengurung.
Pada pembahasan pengertian metafora yang telah disampaikan di depan, Keraf (2006:139-140) mengemukakan bahwa metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat, seperti bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan sebagainya. Metafora sebagai perbandingan langsung, tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, bagaikan dan lain-lain. Dalam metafora, pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua.
Dari pendapat itu, dapat diambil pengertian Keraf juga mengakui bahwa ungkapan kebahasaan yang berupa metafora dibentuk oleh dua bagian. Sama halnya dengan Pradopo, hanya dalam hal ini, Keraf menggunakan istilah pokok pertama untuk term pokok (tenor) dan istilah pokok kedua untuk term kedua (vehicle).
Jika dihubungkan dengan pendapat Wahab (2005:72), apa yang diistilahkan sebagai pokok pertama oleh Keraf, Wahab menyebutnya sebagai signified, yaitu bagian ungkapan metafora yang posisinya dilambangkan. Dan, bagian yang oleh Keraf disebut sebagai pokok kedua, Wahab menyebutnya sebagai signifier, yaitu bagian ungkapan metafora yang posisinya dijadikan sebagai lambang. Dengan demikian, ketiga ahli di atas dapat dikatakan memiliki kesamaan pendapat bahwa ungkapan kebahasaan yang berupa metafora tdrsusun dari dua bagian atau komponen.

Macam-macam Metafora
Di muka telah dijelaskan bahwa gaya bahasa, termasuk metafora, merupakan cara khas penyair menggunakan bahasa untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya pada orang lain (pembaca). Setiap penyair yang kreatif akan mencari dan menemukan keaslianya (karekteristiknya) masing-masing dalam bertutur. Kenyataan ini mengakibatkan lahirnya begitu banyak corak dan ragam gaya bahasa, khususnya metafora. Hal ini karena gaya bahasa kiasan, khususnya metafora, seolah-olah merupakan ladang subur bagi para penyair untuk berkreasi menciptakan ungkapan-ungkapan yang khas dan berdaya ungkap kuat tanpa melupakan estetika.
Meskipun begitu banyak corak metafora yang ditemukan, pada bagian ini akan dipaparkan klasifikasi metafora ditinjau dari beberapa segi, yaitu segi sifatnya, segi keterpakaiannya, dan segi bentuk sintaksisnya. Selanjutnya, paparan yang dimaksud disajikan seperti di bawah ini.

1 Berdasarkan Sifatnya
Dalam penjelasannya tentang metafora, Waluyo (1987:84) menegaskan bahwa contoh-contoh ungkapan metafora seperti litah darat, bunga bangsa, kambing hitam, bunga sedap malam, dan sebagainya digolongkan sebagai metafora klasik (konvensional). Metafora klasik (konvensional) adalah metafora yang sudah dimiliki masyarakat pemakai bahasa. Metafora jenis ini lazim di-pahami sebagai bentuk metafora. Ia banyak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Keberadaannya dapat dilacak dalam kamus-kamus idiom (ungkapan).
Lebih lanjut, Waluyo menambahkan bahwa dalam puisi-puisi modern, banyak dijumpai metafora yang tidak konvensional sebagai hasil upaya kreatif penyair. Jenis metafora ini bersifat original. Ia hanya dimiliki penyairnya. Misalnya, pada puisi Serenada Hitam penyair mengiaskan dirinya sebagai Raden Panji sedangkan kekasihnya dikiaskan sebagai Dewi Chandra Kirana. Tambahan lagi, dalam puisi Perempuan-perempuan Perkasa karya Hartoyo Andangjaya ditemukan larik-larik sebagai berikut.

Di atas roda-roda baja mereka berkendara
Mereka berlomba dengan surya menuju ke gerbang kota
merebut hidup di pasar-pasar kota

Pada puisi ini, roda-roda baja dan merebut hidup merupakan bentuk metafora yang tidak konvensional. Roda-roda baja merupakan kiasan untuk kereta api sedangkan merebut hidup merupakan kiasan untuk kerja keras (berdagang) guna menyambung hidup.

2 Berdasarkan Keterpakaiannya
Pembagian metafora berdasarkan keterpakaiannya yang dimaksudkan adalah terpakai tidaknya sebagai metafora pada masa sekarang ungkapan-ungkapan yang sebelumnya merupakan metafora. Hal ini karena adanya kenyataan bahwa bentuk-bentuk metafora tertentu yang sudah sangat tua dan lazim dianggap tidak memiliki nilai kias lagi dalam kandungan maknanya. Sebagaimana yang dijelaskan Pradopo (2005:66), ada metafora yang disebut dengan metafora mati (dead metaphor). Metafora mati adalah metafora yang sudah klise. Metafora semacam ini sudah dilupakan orang bahwa itu metafora. Sebagai contoh ungkapan kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.
Dalam kaitannya dengan metafora yang masih hidup dan yang sudah mati, Keraf (2006:139-140) menyatakan bahwa bila pada masa sekarang sebuah metafora masih dapat ditentukan makna dasar dari konotasinya, maka metafora itu masih hidup, tetapi bila konotasinya tidak dapat ditentukan lagi, maka metafora itu sudah mati, sudah merupakan klise. Untuk memperjelas pendapatnya, disajikan contoh sebagai bdrikut.

Perahu itu menggergaji ombak
Mobilnya batuk-batuk sejak tadi pagi
Pemuda-pemudi adalah bunga bangsa


Kata-kata mengergaji, batuk-batuk, dan bunga bangsa masih hidup dengan arti aslinya. Sebab itu, penyimpangan makna seperti yang terdapat dalam kalimat-kalimat di atas merupakan metafora yang hidup. Namun, proses penyimpangan semacam itu pada suatu saat dapat membawa pengaruh lebih lanjut dalam perubahan makna kata. Kebanyakan perubahan makna kata mula-mula terjadi karena metafora. Metafora yang sudah sangat umum, lama-kelamaan dilupakan orang itu metafora sehingga makna yang baru itu dianggap sebagai makna yang kedua atau ketiga, seperti: berlayar, berkembang, jembatan, dan sebagainya. Metafora semacam ini adalah metafora mati.
Dengan matinya sebuah metafora, pemakai bahasa berada kembali di depan sebuah kata yang mempunyai denotasi baru. Metafora semacam ini dapat membentuk sebuah kata kerja, kata sifat, kata benda, frasa atau klausa, seperti menarik hati, memegang jabatan, mengembangkan, menduga, dan sebagainya. Sekarang tidak ada orang yang berpikir bahwa bentuk-bentuk itu tadinya adalah metafora.

3 Berdasarkan Bentuk Sintaksisnya
Dilihat dari bentuk sintaksis, Wahab (2006:72) mengajukan tiga macam metafora, yaitu metafora nominatif, metafora predikatif, dan metafora kalimatif. Dijelaskan, metafora nominatif merupakan metafora yang memiliki potensi menduduksi posisi satuan gramatika pembangun kalimat yang disebut subjek dan objek, sehingga metafora ini terbagi menjadi dua macam, yaitu metafora nominatif subjektif dan metafora nominatif objektif.
Memperhatikan kerangka berpikir dan istilah yang digunakan, dalam mengelompokkan macam-macam metafora ini tampaknya Wahab bertumpu pada teori Linguistik yang dikemukakan kaum Strukturalis, khususnya tentang kalimat. Satuan gramatika pembangun kalimat yang posisinya mengikuti predikat lazim mereka sebut sebagai komplemen. Bertolak dari pandangan inilah metafora nominatif objektif oleh Wahab disebut sebagai metafora komplementatif. Sementara, metafora nominatif subjektif selanjutnya disebut sebagai metafora nominatif saja.
Pada metafora nominatif, lambang kias muncul hanya pada subjek kalimat saja, komponen-komponen lainnya dalam kalimat tetap menyatakan makna langsung. Sebagai contoh, disajikan sebuah larik yang ditemukan dalam puisi Tunggu karya Slamet Sukirnanto sebagai berikut.

Angin lama tak singgah
Dalam sajak di atas, subjek angin dikiaskan sebagai utusan pembawa berita sedangkan komponen lainnya, yaitu lama tak singgah tetap dinyatakan dalam makna sebenarnya atau makna langsung.
Selanjutnya, metefora komplementatif memakai lambang kias hanya pada komplemen kalimat, sedang komponen-komponen lain dalam kalimat metaforis itu tetap menyatakan kandungan makna langsung. Sebagai contoh metafora komplementatif, dalam Tonggak ditemukan puisi Ismet Natsir yang salah satu lariknya berbunyi sebagai berikut.

Aku minta dibikinkan jembatan cahaya
Pada metafora di atas, kelompok kata jembatan cahaya berfungsi sebagai komplemen kalimat metaforis itu. Jembatan cah`ya adalah kata-kata kias yang makna sebenarnya ialah jalan yang terang. Itulah dua contoh metafora nominatif, masing-masing metafora nominatif subjektif, metafora nominatif komplementatif.
Dalam metafora predikatif, kata-kata lambang kias hanya terdapat pada predikat kalimat saja, sedangkan subjek dan komponen lain kalimat itu (jika ada) masih dinyatakan dalam makna langsung. Sebagai contohnya, dalam Tonggak ditemukan puisi T. Mulia Lubis yang salah satu lariknya berbunyi sebagai berikut.

Suara aneh terbaring di sini

Kata terbaring merupakan predikat untaian kalimat itu. Kata terbaring, dapat digunakan sebagai predikasi yang cocok mamalia (termasuk manusia). Dalam metafora tersebut, suara aneh (ungkapan kebahasaan dengan makna langsung) dihayati sebagai manusia yang dapat terbaring.
Selanjutnya, jenis metafora terakhir dipandang dari segi sintaksis ialah metafora kalimatif. Dalam metafora ini, seluruh lambang kias yang dipakai tidak terbatas pada nomina (baik yang berlaku sebagai subjek maupun yang berlaku sebagai komplemen) dan predikat saja, melainkan seluruh komponen dalam kalimat metaforis itu. Semua kata yang terdapat dalam sebuah untaian kalimat metafora kalimatif tidak menyatakan makna langsunnya, tapi secara keseluruhan menyatakan makna kias. Contoh metafora kalimatif dapat dilihat pada sebuah larik yang ditemukan dalam puisi Api Pembakaran karya Slamet Sukirnanto di bawah ini.

Api apa membakar?
Seluruh kalimat di atas adalah kias. Tidak ada satu komponen pun dalam kalimat itu yang dipakai sebagai pengungkapan makna langsung. Metafora kalimatif di atas, kira-kira mengandung makna semangat apa yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan?

4 komentar:

  1. yahuuut !!! mantab nia boss ! jadi membuka mata hatiku untuk buat puisi yang bermetafora

    BalasHapus
  2. Siipp..trima kasih bro..menambah wawasan..:)

    BalasHapus